Minggu, 03 September 2017

Nobel Perdamaian sebagai Bentuk Ketololan Sejarah

Dulu semasa sekolah saya kagum dengan kiprah seorang perempuan Myanmar, Aung San Suu Kyi sebagai perempuan terhebat di kawasan Asia Tenggara dengan aksinya atas perjuangan non-kekerasan untuk demokrasi dan hak asasi manusia yang membawa perempuan ini memperoleh Nobel Perdamaian di tahun 1991.

Namun melihat pembunuhan dan pembantaian terhadap etnis Rohingya di Negara Bagian Rakhine Myanmar yang berawal di tahun 2012 sebagaimana laporan media setempat The New Light of Myanmar edisi 4 Juni 2012 tersebut disertai bungkamnya seorang Aung San Suu Kyi. Sepertinya kekaguman akan tokoh yang pernah difilmkan dengan judul "The Lady" ini terbayang menjadi "The Monster".

Deretan peristiwa pembantaian sejak tahun 2015 hingga sekarang ini membuktikan bahwa perempuan yang difilmkan dengan judul "The Lady" ini tidak layak lagi memegang nobel perdamaian. Dikarena pada tahun 2015 hingga sekarang ini, seorang Aung San Suu Kyi yang menjabat sebagai Penasehat Negara, pemimpin Myanmar bungkam atas pembantaian etnis Rohingya di Negara Bagian Rakhine.

Tercatat selama Aung San Suu Kyi menjabat sebagai Penasehat Negara Pemimpin Myanmar tersebut di tahun 2015 saja, korban pembunuhan dan pembantaian tidak dapat dihitung dengan pasti. Hal ini disebabkan karena Pemerintah Myanmar melarang upaya peliputan media luar dan berbagai aksi kemanusian yang masuk ke wilayah Rakhine tersebut. Namun beberapa penemuan sudah cukup membuktikan bahwa ada upaya pembersihan etnis yang dilakukan oleh Pemerintah Myanmar terhadap etnis Rohingya. Beberapa temuan tersebut diantaranya Pemerintah Thailand menemukan terdapat 30 mayat dimakamkan di kamp hutan tertinggal yang berbatasan dengan Malaysia. Sementara ditempat lain polisi Malaysia juga menemukan 30 kuburan di Negara Bagian Perlis sebelah utara Malaysia. Sebagaimana laporan yang dilansir dari Surat Kabar The Star bahwa 1 makam berisi 100 jenazah.

Pada tahun 2016 tercatat sebanyak 150 orang tewas dibantai militer Myanmar. Bukan hanya itu, Human Rights Watch (HRW) mencatat bahwa ratusan rumah suku Rohingya di desa-desa dihancurkan hingga luluh lantak oleh militer Myanmar dan sebanyak 2 ribu etnis Rohingya mengungsi ke Indonesia, Malaysia dan Thailand.

Tahun 2017 di bulan Agustus pembantaian kembali dilakukan oleh militer Myanmar dengan korban sebagaimana dikutip dari halaman VIVA.co.id yaitu sebanyak 400 orang tewas (termasuk wanita dan anak anak) dan 2.600 rumah dibakar.

Rentetan peristiwa kekerasan tersebut diatas yang dilakukan oleh Pemerintah Myanmar jelas mengarah pada upaya pembersihan etnis (genocide). Lalu apakah masih layak seorang Aung San Suu Kyi mendapat penghormatan sebagai ikon demokrasi ???? Ataukah pemberian penghargaan Nobel Perdamaian kepada Aung San Suu Kyi adalah merupakan sebuah "ketololan sejarah" ???

#SaveRohingyanPeople