Kamis, 21 Juni 2018

PARA PEJUANG PALESTINA

Sebagaimana akhir dari tulisan saya yang lalu yang mengatakan bahwa Kaum Muslim dunia telah melakukan berbagai upaya mendukung perlawanan rakyat Palestina atas wilayah yang diklaim oleh Zionis Israel.

Tidak ada kata lain bahwa apa yang telah dilakukan oleh negara-negara Muslim tersebut hanya menunjukkan suatu sikap peduli atau bentuk solidaritas antara sesama negara Muslim.

Lalu bagaimana dengan para pejuang dan rakyat Palestina, apakah mereka solid dalam memperjuangkan kemerdekaan mereka sendiri ?? Tanya teman sambil menyalakan rokok yang tinggal setengah (akibat keasyikan menyimak penjelasan saya).

Mereka tidak solid jawabku singkat sambil menarik napas dalam-dalam. Pertanda prihatin.

Kamu bisa lihat rentetan aksi perlawanan dari rakyat dan pejuang Palestina yang ada di Jalur Gaza pada bulan Juli tahun 2014 lalu. Pertempuran selama kurang lebih 50 hari itu menewaskan 7 pejuang Hamas dan menewaskan 1.700-an sampai 1.900-an rakyat sipil di Gaza (angka tidak disajikan secara pasti karena beda data dari berbagai organisasi kemanusiaan di Gaza). Sementara kondisi di tempat lain yakni di Tepi Barat misalnya di Ramalah yang dikuasai Faksi Fatah itu, masyarakatnya adem-adem saja seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Fakta terkini yang menunjukkan bahwa mereka tidak bersatu adalah beberapa hari lalu di bulan Ramadhan tahun 2018 ini, ada aksi protes dari warga Palestina yang mereka sebut dengan "Pawai Akbar Kepulangan" (Great Return March). Pada aksi itu korban jiwa berjatuhan diantaranya 114 orang tewas dan 13.000 orang luka-luka (Data Kementerian Kesehatan di Gaza). Semua itu terjadi hanya di Jalur Gaza doank. Sementara tidak ada aksi yang sama di daerah-daerah lain di Palestina misalnya di Ramalah. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak kompak.

Sambil seruput kopi, teman berceloteh "kasihan ya mereka". Jadi rakyat Palestina itu terkotak-kotak ya ?? Pantesan mereka sulit merdeka. Tapi kok mereka suka "jualan" Masjid Aqsa untuk menarik simpati Kaum Muslim dunia. Ahhhaa ana paham sekarang. 

Itu masalahnya bro... mereka terkotak-kotak dengan banyak faksi yang ada di sana. Berikut ane jelaskan ke ente kekuatan-kekuatan politik di sana agar ente memahami detail situasi politik di Palestina. Jangan ente seperti mereka di luar sana yang lantang berteriak "Bela Palestina" !!! Tapi caranya gimana ???? Itu namanya "Bulshiitt" alias omong kosong saja. Seharusnya mereka turun ke jalan menuntut persatuan seluruh komponen di Palestina sana.

Sambil seruput kopi teman kembali berceloteh : "Itu pertanda bahwa mereka tidak paham kondisi Palestina. Palestina hanya sebatas Masjid Aqsa doank yang mereka tau". Teruuss penjelasan kekuatan politik di Palestina mana "dang"?? (Saking penasaran, aksen Ternate-nya keluar) ðŸ˜‚😂😂😂

Sabar bro .... ana ngupi dulu,.. sambil ku sambar tahu isi yang tinggal satu di piring. Nampak wajah kecewa dari teman itu sambil dia menggingit gerahamnya krenyok... krenyok.

Jadi... begini mas bro yang gantengnya seperti Smeagol (salah satu tokoh di Film Lord of The Ring). Faksi-faksi pejuang yang ada di Palestina adalah sebagai berikut :

FATAH

Harakat at-Tahrir al-Wathani al-Filasthini atau Gerakan Nasional Pembebasan Palestina. Fatah didirikan pada tahun 1958 dengan tujuan utamanya untuk mendirikan negara Palestina. Pendiri organisasi Fatah adalah orang-orang Palestina yang mengenyam pendidikan di Kairo (Mesir), salah satunya adalah Yasser Arafat. Awal pembentukannya, Fatah bukanlah partai politik melainkan faksi dalam PLO (Palestine Liberation Organization). Sedangkan PLO sendiri adalah sebuah konfederasi dari berbagai partai (multipartai).

Bergabungnya Fatah ke dalam PLO terjadi pada tahun 1960 dan menjadi kekuatan penting dalam organisasi PLO. Pemimpinnya Yasser Arafat pun didaulat untuk memimpin organisasi PLO.

Keberadaan Fatah sangat dominan setelah meletusnya Perang Arab - Israel di tahun 1967 yang diistilahkan "Perang Enam Hari" itu.

Di bidang militer, Fatah memiliki organisasi sayap yang dikenal dengan nama  Brigade Martir Al Aqsa.

Pamor Fatah mulai meredup setelah kematian pemimpinnya Yasser Arafat dan korupsi para pejabatnya dalam kasus Arafat's Swiss Bank Account.

Kemenangan Hamas dalam Pemilu Legislatif pada tahun 2006 tersebut menunjukkan penurunan popularitas dari Fatah.

Namun sayangnya, dibalik kemenangan Hamas dalam pemilu tersebut ketegangan antara kedua faksi terbesar di Palestina itu makin meruncing.


HAMAS

Akronimnya Harakat al-Muqawamat al-Islamiyyah (Gerakan Perlawanan Islam). Hamas awalnya adalah organisasi sosial dan militer.

Karena Hamas adalah cabang dari Ikhwanul Muslimin di Mesir, organisasi ini dibentuk dengan satu tujuan yaitu mendirikan negara Islam Palestina. Baru di tahun 2006, Hamas mengambil peran dalam bidang politik di Palestina dengan cara mengikutsertakan dalam pemilu Legislatif di Palestina.

Secara mengejutkan Hamas menang dalam pemilu yang baru pertama kali diikutinya itu. Otomatis pemerintahan di Palestina berada dibawah kendali Hamas dengan Perdana Menterinya adalah Ismail Haniyah. Basis terbesar pendukung Hamas berada di wilayah Jalur Gaza.

Di bidang militer, Hamas memiliki organisasi sayap yang dikenal dengan nama  Brigade Izzuddin Al-Qassam. Organisasi sayap Hamas ini didirikan pada tahun 1992 oleh Yahya Ayyash. Dia terkenal sebagai seorang konseptor dari "Bom Syahid".

Waahh... ngomong-ngomong tentang "Bom Syahid", kok saya jadi ingat ceramah Ustad Abdul Somad yang jadi viral beberapa waktu lalu. Kata teman memotong penjelasan saya. Menurut sang Ustad, bahwa aksi bom bunuh diri itu termasuk dalam kategori "amaliyah istishadiyah" dan pelaku bom bunuh diri yang mati disebut "syuhada". Sepertinya nyambung dengan penjelasan barusan itu. Hehehehe celoteh sang teman sambil seruput kopinya yang sudah dingin.

Sambil seruput kopi juga, saya bergumam... wahhh makin larut, pertanyaannya makin berat. Hehehehe

Jadi begini sodara.... suasana kembali tegang. Perlu ditegaskan bahwa penjelasan Ustad Somad itu apabila konteksnya dalam situasi perang. Bukan dalam situasi damai. Palestina itu kan dalam situasi memprihatinkan. Dimana kita semua tahu bahwa rakyat Palestina hendak diusir dari tanah yang mereka punya. Jika demikian, penjelasan Ustad Somad tidak ada salahnya.

Tapi menurut saya, perlu dipertegas target atau sasaran dari aksi bom diri itu. Jika targetnya adalah fasilitas umum, ini masalahnya. Kalau target atau sasaranya adalah fasilitas militer atau tentara itu baru benar. Apa kita membenarkan pembantaian warga Yahudi yang tidak berurusan dengan perang ?? Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa Islam tidak membenarkan pembunuhan terhadap rakyat sipil yang tidak bersalah. Siapa pun mereka, baik Yahudi, Nasrani maupun umat lainnya. Mengenai polemik tentang hukum amaliah istishadiah ini, nantilah kita bahas di waktu yang lain. Sekarang kita kembali ke Laptop !!

Hmmm teman saya nyengir karena saya tidak melanjutkannya. Maklum Indonesia lagi heboh dengan aksi bom bunuh diri di Surabaya jadi dia kecewa. 

Jangan lupa ya dikupas juga mengenai gerakan dari Ikhwanul Muslimin. Lagi hot lho informasi tentang pembubaran organisasi radikal. Permintaan kawan agak memaksa sambil dia menyalakan rokoknya. Baiklah.. Inshaa Allah ... Asal bapak puas, saya lemas. Begitu gurauan saya.

JIHAD ISLAMI (THE PALESTINIAN ISLAMIC JIHAD

Jihad Islam atau "Harakat al-Jihad al-Islami fi Filastin" merupakan faksi lainnya yang ada di Palestina. Didirikan oleh Fathi Syaqaqi dan Abdul Aziz al Awda pada tahun 1970-an. Tujuan utama dari faksi ini adalah mendirikan negara syariat Islam Palestina. Ideologi kelompok ini  sangat dekat dengan organisasi Al Qaedah. Itulah mengapa negara Amerika Serikat memvonis kelompok ini sebagai kelompok teroris. Kelompok ini juga terkenal dengan aksi bom bunuh diri lho.

Namun kelompok ini berbeda dengan Hamas dan Fatah. Kelompok ini tidak punya "nafsu" dengan perpolitikan. Mereka hanya disibukkan dengan aksi perlawanan militer saja.

Organisasi sayap militer mereka bernama Brigade Al Quds. Saya menduga bahwa kelompok Brigade Al Quds ini membangun kerjasama juga dengan kelompok Hizbullah di Lebanon itu. Ini terlihat dari kemampuan Brigade Al Quds dalam membuat roket yang memiliki kesamaan teknologi dengan roket Katyusha milik Kelompok Hizbullah. 

Jika benar dugaan saya, menarik untuk disimak. Menariknya adalah ternyata mereka sudah tidak mempersoalkan sekte keagamaan lagi. Sunni dan Syiah sudah bukan masalah lagi bagi mereka.

Alhamdulillah. Takbiiirr... kaget teman saya. Inget ya Takbiirr .... bukan Take a beer .... Hati-hati, bunyinya mirip lhoe. Dan kita pun tertawa beberapa saat. 

KOMITE PERLAWANAN RAKYAT (THE POPULAR RESISTANCE COMMITTEES)

Komite Perlawanan Rakyat atau Arabnya "Lijan Muqawwamah Sya'biyyah" didirikan pada tahun 2000 oleh Jamal Abu Samhadana.

Menariknya, kebanyakan anggota faksi ini adalah orang-orang yang dulunya adalah anggota dari faksi Fatah dan sayap militernya Brigade Martir Al Aqsa. Mungkin mereka "kecewa" dengan model perjuangan Fatah yang cenderung "lembek". Diplomasi melulu yang mereka andalkan. Kurang lebih seperti begitu dugaan saya tentang kekecewaan mereka terhadap Fatah.

Di bidang militer, KPR memiliki organisasi sayap yang bernama Brigade Nashir Shalahuddin. Nama ini terinpirasi dari sosok pejuang Muslim yang sukses menaklukkan Tentara Salib di Palestina. Siapa lagi kalau bukan Shalahuddin al Ayyubi.

Kok ada KPR disebutkan tadi. Apa itu akronim dari "Kredit Perumahan Rakyat" ?? Candaan teman. Mungkin menghilangkan stress dengan penjelasan saya yang seperti penjelasan dosen di kampus.

Lho kok sudah nyangkut di kredit kelentit itu ya... ?? KPR yang dimaksudkan itu Komite Perlawanan Rakyat lho.

Tapi tidak apa-apa, di Indonesia kredit itu kedengarannya seksi banget. Hahahaha tertawa kami berdua membangunkan orang untuk sahur. Lanjuuttt !! Menarik kata teman.

FRONT RAKYAT UNTUK PEMBEBASAN PALESTINA (POPULAR FRONT FOR THE LIBERATION OF PALESTINE)

Front Rakyat Untuk Pembebasan Palestina (FRPP) arabnya Al -Jabhah Al-Sha'biyyah lil-Tahrir Filastina didirikan pada tahun 1967 oleh seorang dokter beragama Kristiani yang bernama Dr. George Habash.

Faksi ini berhaluan Marxist atau yang kalian kenal dengan Komunis dan merupakan faksi terbesar kedua setelah Fatah dalam perkumpulan multipartai PLO itu. 

Menariknya faksi ini cenderung tidak sejalan dengan Fatah yang memilih sikap moderat terhadap Israel. Bahasa teknisnya diplomasi melulu dalam penyelesaian masalah Palestina - Israel.

Di bidang militer, faksi ini memiliki organisasi sayap yang bernama Brigade Abu Ali Mustapha. Kelompok ini terkenal dengan aksi pembajakan pesawat.

Sebanyak 2 kali pembajakan pesawat telah mereka lakukan yakni pembajakan 4 unit pesawat sekaligus di Zarka Yordania pada tahun 1970 dan pembajakan 1 unit pesawat Air France di Uganda pada tahun 1976. Aksi pembajakan di Uganda ini yang dikenal dengan Peristiwa Entebbe.

FRONT DEMOKRASI UNTUK PEMBEBASAN PALESTINA (DEMOCRATIC FRONT FOR THE LIBERATION OF PALESTINE)

Faksi ini sebutan Arabnya Al-Jabha al-Dimuqratiya Li-Tahrir Filastin. Faksi ini mirip dengan FRPP diatas yakni adalah partai politik yang tergabung dalam PLO dan berhaluan Marxist atau Komunis.

Didirikan oleh Nayef Hayatmeh pada tahun 1969. Faksi ini tidak memiliki organisasi sayap militer sebagaimana faksi-faksi yang lain. Ini menunjukkan bahwa kelompok ini hanya fokus di bidang politik saja.

Demikianlah jumlah faksi yang ada di Palestina. Nampak bahwa mereka berbeda dari sisi ideologi maupun cara perjuangan dalam pembebasan Palestina atas Israel. 

Fatah dan Front Demokrasi Untuk Pembebasan Palestina lebih cenderung mengandalkan pola diplomasi  dalam menghadapi Israel, sementara faksi lainnya lebih memilih perang.

Faksi-faksi ini juga tidak terkoordinir dengan baik antara satu dengan yang lainnya. Kondisi ini yang melemahkan perjuangan mereka. Padahal nasehat Khalifah Ali ra. bahwa "kejahatan yang terkoordinir akan mengalahkan kebenaran yang tidak terkoordinir" mungkin mereka belum pernah dengar.

Selain perbedaan ideologi dan perbedaan pola perjuangan, mereka juga bersitegang antara sesama mereka. Bahkan tidak tanggung-tanggung ketegangan itu menjurus pada perang. Tercatat mereka pernah berperang di Jalur Gaza dan Tepi Barat pada tahun 2007 lalu. Namun jalannya perang terbanyak terjadi di Jalur Gaza. Hasilnya Hamas berhasil menguasai Jalur Gaza.

Fatah pun membalas melalui Presiden Mahmoud Abbas dengan memecat Ismail Haniyah sebagai Perdana Menteri dan menggantinya dengan Fayyad.

Namun Ismail Haniyah menolak pemecatan dirinya. Sehingga terjadi dualisme pemerintahan hingga sekarang ini. Yakni secara de facto Ismail Haniyah (Pemimpin Hamas) menguasai Jalur Gaza. Sedangkan Fatah menguasai Tepi Barat dengan Perdana Menterinya Salam Fayyad. Tahun 2013, Salam Fayyad diganti dengan Rami Hamdalah hingga saat ini.

Upaya rekonsiliasi  antara kedua kubu pun dilakukan oleh negara-negara Muslim. Pada tahun 2010 Mesir bersedia menjadi tuan rumah proses rekonsiliasi itu. Hasil dari rekonsiliasi itu adalah Hamas bersedia menyerahkan wilayah Jalur Gaza yang dikuasainya itu kepada Pemerintah Palestina yang dikuasai oleh Fatah.

Tapi sungguh sangat disayangkan. Proses rekonsiliasi itu dinodai oleh Fatwa Pemerintah Arab Saudi yang masih menganggap Hamas sebagai organisasi teroris karena bekerjasama dengan Iran.

Hadeeeww Arab Saudi lagi.... kampret mereka itu. Dasar Wahabi. Islam muncul di sana tapi makin brengsek juga mereka itu. Yaman mereka bombardir, Suriah juga mereka sikat. Itukah Islam mereka ?? Emosi teman saya sambil pukul-pukul kursi tempat dia duduk.

Sabar bro.... !! Ente bisa benci dengan pemerintah Arab Saudi, tapi jangan kaitkan dengan Islam lho. Nanti sampeyan di demo berjilid-jilid oleh pasukan nasi bungkus karet 2.

Wkwkwkwkw nasi bungkus karet 2 itu lho bikin ngakak.

Kayaknya sudah bisa bubar bro. Sahur oeeee.... kata saya.

Ohh iya sahurnya pake nasi bungkus karet 2 vro ??? Candaan teman saya sambil jalan pulang.

Huuusss bubar.. wkwkwkwkw


Note :
Tulisan ini didedikasikan kepada Ayu. Dia adalah pejuang terbaik di banding pejuang Palestina bagi saya.

Seorang perempuan yang "dipaksa" berjuang bertahan hidup sendiri dan mengayomi saudara-saudaranya. Dia sosok perempuan terkuat yang pernah saya lihat selain ibu saya.

Semoga rahmat Allah selalu menyertaimu. Dimanapun kau berada. Amiiinnn



Senin, 18 Juni 2018

KONFLIK DI TANAH PARA NABI


"Sebenarnya saya malas bercerita tentang Palestina". Begitulah kata saya mengawali cerita lepas bersama kawan sambil menyalakan sebatang rokok.

Bagaimana tidak malas kalau konflik 2 bangsa itu Israel dan Palestina sudah terjadi sejak zaman Nabi Musa hingga zamannya si Musa Badrun (tetangga saya) masalahnya tidak kelar-kelar juga.

Sambil tertawa terkekeh-kekeh teman saya bertanya terus masalahnya dimana sampai Palestina sulit merdeka ?? Jawabannya ada di rakyat Palestina itu sendiri. Mereka mau bersatu atau tidak ?? Itu masalahnya. Bukan tergantung dari aksi kaum muslim seluruh dunia. 

Berbagai upaya telah dilakukan oleh kaum muslim dunia baik melalui lembaga negara maupun organisasi-organisasi seperti OKI, Liga Arab dan sebagainya lalu apa hasilnya ?? Palestina merdeka sepenuhnya ?? Ternyata tidak.

Wacananya makin menarik, sepertinya perlu pesan kopi ini. Biar melek mata. Kata teman. 

Berbagai cara telah dilakukan oleh negara-negara Muslim, saya melanjutkan perbincangan.  Dimulai dari pemutusan hubungan diplomatik sampai yang paling ekstrem melalui upaya perang telah mereka lakukan. 

Sepengetahuan saya, perang negara-negara Arab dengan Israel sudah terjadi sebanyak 4 kali, yaitu pada tahun 1948-1949, tahun 1956, tahun 1967 dan tahun 1973.

Sebanyak 3 kali pertempuran Arab versus Israel yang berkaitan dengan pembebasan Palestina, sedang 1 pertempuran tidak berkaitan dengan Palestina melainkan gara-gara persoalan nasionalisasi Terusan Suez oleh Mesir di tahun 1956. 

Sambil seruput kopi yang sudah dibikin, teman terus bertanya "lalu Konsekuensi dari Perang itu apa ? Sambil bercanda saya bergumam "kayaknya ini kuliah 3 SKS mata kuliah politik Timur Tengah". Sesaat kawan itu tertawa sambil garuk-garuk kepalanya.  Walaupun saya tau bahwa kepalanya tidak gatal. Itu hanya pertanda bahwa dia ingin mendengar jawaban dari pertanyaannya itu.

Jadi begini saudara (keadaan tegang kembali). Pada pertempuran pertama, kemenangan berpihak pada Israel dan hasilnya negara Israel berdiri seperti yang kita kenal sekarang ini. Kemudian pada perang kedua, berakhir dengan gencatan senjata yang memaksa Mesir membayar ke Suez Canal Company selaku pemegang otoritas Terusan Suez sebelum di nasionalisasikan oleh Presiden Mesir waktu itu Gamal Abdul Nasser. Itu terjadi pada tahun 1956.

Pada perang Arab - Israel yang ketiga, yaitu pada tahun 1967 kemenangan berada di pihak Israel. Hasilnya adalah Suriah harus kehilangan Dataran Tinggi Golan, Jordania harus kehilangan wilayah Tepi Barat dan Yerusalem Timur yang dikuasainya. Mesir juga kehilangan sebagian wilayahnya yaitu Semenanjung Sinai dan Jalur Gaza (waktu itu dibawah kendali Mesir). 

Dengan demikian, sudah pasti batas wilayah Israel pun bertambah setelah menang perang yakni bertambah 300 km ke selatan, 60 km ke timur, dan 20 km ke utara.

"Busyeettt" kata teman saya. Kelihatan dia kaget bercampur jengkel. Terrruuuusss pintanya sambil plototin matanya.

Pada perang yang keempat dijuluki Perang Yom Kippur atau Perang Ramadhan (istilah versi Arab) di tahun 1973 ini masing-masing pihak mengklaim kemenangan di pihak mereka. Tapi menurut hemat saya kemenangan terbesar ada di pihak Arab. Karena wilayah Semenanjung Sinai yang dicaplok Israel pada perang tahun 1967 lalu berhasil diambil kembali oleh Mesir.

Lalu pelajaran apa yang bisa diambil dari rentetan peristiwa diatas terhadap kemerdekaan Palestina ??

Jadi begini sodara, jangan bilang bahwa negara-negara Muslim diam dan tidak berbuat banyak terhadap Israel itu. Mereka harus kehilangan wilayah mereka hanya untuk menghancurkan Israel. Mereka hanya ingin menunjukkan kepada Palestina tentang solidaritas sebagai sesama bangsa Arab dan sama-sama Muslim.

Kita yang di Indonesia juga telah menunjukkan aksi solidaritas yang sama walaupun beda cara kepada bangsa Palestina diantaranya Negara Indonesia tidak sudi membangun hubungan bilateral dengan Israel. Terutama di masa Presiden Joko Widodo, Pemerintah RI bersikeras tidak mau membangun hubungan bilateral dengan Israel pada saat PM Benyamin Netanyahu memintanya di bulan Maret 2016.

Selain itu, sikap keras Indonesia terhadap Israel ditunjukkan Presiden Joko Widodo dalam pidato penutupan Konfrensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Organisasi Kerja sama Islam (OKI) tertanggal 7 Maret 2016 lalu, beliau menyerukan boikot seluruh produk Israel yang dihasilkan dari wilayah pendudukan di Palestina.

Kaum Muslim telah menunjukkan aksi solidaritas mereka kepada Bangsa Palestina baik melalui perjuangan lewat organisasi internasional maupun lembaga negara. Sekarang kita jangan lupa bertanya kepada rakyat Palestina se solid apa perjuangan kalian ??? Kalian jangan hanya berharap persatuan kaum Muslim dunia sementara internal kalian hancur berantakan. Ulasan tentang hal ini akan di bahas pada tulisan selanjutnya. Harap maklum kopi sudah habis. ðŸ˜‚😂😂😂


Minggu, 03 September 2017

Nobel Perdamaian sebagai Bentuk Ketololan Sejarah

Dulu semasa sekolah saya kagum dengan kiprah seorang perempuan Myanmar, Aung San Suu Kyi sebagai perempuan terhebat di kawasan Asia Tenggara dengan aksinya atas perjuangan non-kekerasan untuk demokrasi dan hak asasi manusia yang membawa perempuan ini memperoleh Nobel Perdamaian di tahun 1991.

Namun melihat pembunuhan dan pembantaian terhadap etnis Rohingya di Negara Bagian Rakhine Myanmar yang berawal di tahun 2012 sebagaimana laporan media setempat The New Light of Myanmar edisi 4 Juni 2012 tersebut disertai bungkamnya seorang Aung San Suu Kyi. Sepertinya kekaguman akan tokoh yang pernah difilmkan dengan judul "The Lady" ini terbayang menjadi "The Monster".

Deretan peristiwa pembantaian sejak tahun 2015 hingga sekarang ini membuktikan bahwa perempuan yang difilmkan dengan judul "The Lady" ini tidak layak lagi memegang nobel perdamaian. Dikarena pada tahun 2015 hingga sekarang ini, seorang Aung San Suu Kyi yang menjabat sebagai Penasehat Negara, pemimpin Myanmar bungkam atas pembantaian etnis Rohingya di Negara Bagian Rakhine.

Tercatat selama Aung San Suu Kyi menjabat sebagai Penasehat Negara Pemimpin Myanmar tersebut di tahun 2015 saja, korban pembunuhan dan pembantaian tidak dapat dihitung dengan pasti. Hal ini disebabkan karena Pemerintah Myanmar melarang upaya peliputan media luar dan berbagai aksi kemanusian yang masuk ke wilayah Rakhine tersebut. Namun beberapa penemuan sudah cukup membuktikan bahwa ada upaya pembersihan etnis yang dilakukan oleh Pemerintah Myanmar terhadap etnis Rohingya. Beberapa temuan tersebut diantaranya Pemerintah Thailand menemukan terdapat 30 mayat dimakamkan di kamp hutan tertinggal yang berbatasan dengan Malaysia. Sementara ditempat lain polisi Malaysia juga menemukan 30 kuburan di Negara Bagian Perlis sebelah utara Malaysia. Sebagaimana laporan yang dilansir dari Surat Kabar The Star bahwa 1 makam berisi 100 jenazah.

Pada tahun 2016 tercatat sebanyak 150 orang tewas dibantai militer Myanmar. Bukan hanya itu, Human Rights Watch (HRW) mencatat bahwa ratusan rumah suku Rohingya di desa-desa dihancurkan hingga luluh lantak oleh militer Myanmar dan sebanyak 2 ribu etnis Rohingya mengungsi ke Indonesia, Malaysia dan Thailand.

Tahun 2017 di bulan Agustus pembantaian kembali dilakukan oleh militer Myanmar dengan korban sebagaimana dikutip dari halaman VIVA.co.id yaitu sebanyak 400 orang tewas (termasuk wanita dan anak anak) dan 2.600 rumah dibakar.

Rentetan peristiwa kekerasan tersebut diatas yang dilakukan oleh Pemerintah Myanmar jelas mengarah pada upaya pembersihan etnis (genocide). Lalu apakah masih layak seorang Aung San Suu Kyi mendapat penghormatan sebagai ikon demokrasi ???? Ataukah pemberian penghargaan Nobel Perdamaian kepada Aung San Suu Kyi adalah merupakan sebuah "ketololan sejarah" ???

#SaveRohingyanPeople