Sebagaimana akhir dari tulisan saya yang lalu yang mengatakan bahwa Kaum Muslim dunia telah melakukan berbagai upaya mendukung perlawanan rakyat Palestina atas wilayah yang diklaim oleh Zionis Israel.
Tidak ada kata lain bahwa apa yang telah dilakukan oleh negara-negara Muslim tersebut hanya menunjukkan suatu sikap peduli atau bentuk solidaritas antara sesama negara Muslim.
Lalu bagaimana dengan para pejuang dan rakyat Palestina, apakah mereka solid dalam memperjuangkan kemerdekaan mereka sendiri ?? Tanya teman sambil menyalakan rokok yang tinggal setengah (akibat keasyikan menyimak penjelasan saya).
Mereka tidak solid jawabku singkat sambil menarik napas dalam-dalam. Pertanda prihatin.
Kamu bisa lihat rentetan aksi perlawanan dari rakyat dan pejuang Palestina yang ada di Jalur Gaza pada bulan Juli tahun 2014 lalu. Pertempuran selama kurang lebih 50 hari itu menewaskan 7 pejuang Hamas dan menewaskan 1.700-an sampai 1.900-an rakyat sipil di Gaza (angka tidak disajikan secara pasti karena beda data dari berbagai organisasi kemanusiaan di Gaza). Sementara kondisi di tempat lain yakni di Tepi Barat misalnya di Ramalah yang dikuasai Faksi Fatah itu, masyarakatnya adem-adem saja seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Fakta terkini yang menunjukkan bahwa mereka tidak bersatu adalah beberapa hari lalu di bulan Ramadhan tahun 2018 ini, ada aksi protes dari warga Palestina yang mereka sebut dengan "Pawai Akbar Kepulangan" (Great Return March). Pada aksi itu korban jiwa berjatuhan diantaranya 114 orang tewas dan 13.000 orang luka-luka (Data Kementerian Kesehatan di Gaza). Semua itu terjadi hanya di Jalur Gaza doank. Sementara tidak ada aksi yang sama di daerah-daerah lain di Palestina misalnya di Ramalah. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak kompak.
Sambil seruput kopi, teman berceloteh "kasihan ya mereka". Jadi rakyat Palestina itu terkotak-kotak ya ?? Pantesan mereka sulit merdeka. Tapi kok mereka suka "jualan" Masjid Aqsa untuk menarik simpati Kaum Muslim dunia. Ahhhaa ana paham sekarang.
Itu masalahnya bro... mereka terkotak-kotak dengan banyak faksi yang ada di sana. Berikut ane jelaskan ke ente kekuatan-kekuatan politik di sana agar ente memahami detail situasi politik di Palestina. Jangan ente seperti mereka di luar sana yang lantang berteriak "Bela Palestina" !!! Tapi caranya gimana ???? Itu namanya "Bulshiitt" alias omong kosong saja. Seharusnya mereka turun ke jalan menuntut persatuan seluruh komponen di Palestina sana.
Sambil seruput kopi teman kembali berceloteh : "Itu pertanda bahwa mereka tidak paham kondisi Palestina. Palestina hanya sebatas Masjid Aqsa doank yang mereka tau". Teruuss penjelasan kekuatan politik di Palestina mana "dang"?? (Saking penasaran, aksen Ternate-nya keluar) 😂😂😂😂
Sabar bro .... ana ngupi dulu,.. sambil ku sambar tahu isi yang tinggal satu di piring. Nampak wajah kecewa dari teman itu sambil dia menggingit gerahamnya krenyok... krenyok.
Jadi... begini mas bro yang gantengnya seperti Smeagol (salah satu tokoh di Film Lord of The Ring). Faksi-faksi pejuang yang ada di Palestina adalah sebagai berikut :
FATAH
Harakat at-Tahrir al-Wathani al-Filasthini atau Gerakan Nasional Pembebasan Palestina. Fatah didirikan pada tahun 1958 dengan tujuan utamanya untuk mendirikan negara Palestina. Pendiri organisasi Fatah adalah orang-orang Palestina yang mengenyam pendidikan di Kairo (Mesir), salah satunya adalah Yasser Arafat. Awal pembentukannya, Fatah bukanlah partai politik melainkan faksi dalam PLO (Palestine Liberation Organization). Sedangkan PLO sendiri adalah sebuah konfederasi dari berbagai partai (multipartai).
Bergabungnya Fatah ke dalam PLO terjadi pada tahun 1960 dan menjadi kekuatan penting dalam organisasi PLO. Pemimpinnya Yasser Arafat pun didaulat untuk memimpin organisasi PLO.
Keberadaan Fatah sangat dominan setelah meletusnya Perang Arab - Israel di tahun 1967 yang diistilahkan "Perang Enam Hari" itu.
Di bidang militer, Fatah memiliki organisasi sayap yang dikenal dengan nama Brigade Martir Al Aqsa.
Pamor Fatah mulai meredup setelah kematian pemimpinnya Yasser Arafat dan korupsi para pejabatnya dalam kasus Arafat's Swiss Bank Account.
Kemenangan Hamas dalam Pemilu Legislatif pada tahun 2006 tersebut menunjukkan penurunan popularitas dari Fatah.
Namun sayangnya, dibalik kemenangan Hamas dalam pemilu tersebut ketegangan antara kedua faksi terbesar di Palestina itu makin meruncing.
Bergabungnya Fatah ke dalam PLO terjadi pada tahun 1960 dan menjadi kekuatan penting dalam organisasi PLO. Pemimpinnya Yasser Arafat pun didaulat untuk memimpin organisasi PLO.
Keberadaan Fatah sangat dominan setelah meletusnya Perang Arab - Israel di tahun 1967 yang diistilahkan "Perang Enam Hari" itu.
Di bidang militer, Fatah memiliki organisasi sayap yang dikenal dengan nama Brigade Martir Al Aqsa.
Pamor Fatah mulai meredup setelah kematian pemimpinnya Yasser Arafat dan korupsi para pejabatnya dalam kasus Arafat's Swiss Bank Account.
Kemenangan Hamas dalam Pemilu Legislatif pada tahun 2006 tersebut menunjukkan penurunan popularitas dari Fatah.
Namun sayangnya, dibalik kemenangan Hamas dalam pemilu tersebut ketegangan antara kedua faksi terbesar di Palestina itu makin meruncing.
HAMAS
Akronimnya Harakat al-Muqawamat al-Islamiyyah (Gerakan Perlawanan Islam). Hamas awalnya adalah organisasi sosial dan militer.
Karena Hamas adalah cabang dari Ikhwanul Muslimin di Mesir, organisasi ini dibentuk dengan satu tujuan yaitu mendirikan negara Islam Palestina. Baru di tahun 2006, Hamas mengambil peran dalam bidang politik di Palestina dengan cara mengikutsertakan dalam pemilu Legislatif di Palestina.
Secara mengejutkan Hamas menang dalam pemilu yang baru pertama kali diikutinya itu. Otomatis pemerintahan di Palestina berada dibawah kendali Hamas dengan Perdana Menterinya adalah Ismail Haniyah. Basis terbesar pendukung Hamas berada di wilayah Jalur Gaza.
Di bidang militer, Hamas memiliki organisasi sayap yang dikenal dengan nama Brigade Izzuddin Al-Qassam. Organisasi sayap Hamas ini didirikan pada tahun 1992 oleh Yahya Ayyash. Dia terkenal sebagai seorang konseptor dari "Bom Syahid".
Waahh... ngomong-ngomong tentang "Bom Syahid", kok saya jadi ingat ceramah Ustad Abdul Somad yang jadi viral beberapa waktu lalu. Kata teman memotong penjelasan saya. Menurut sang Ustad, bahwa aksi bom bunuh diri itu termasuk dalam kategori "amaliyah istishadiyah" dan pelaku bom bunuh diri yang mati disebut "syuhada". Sepertinya nyambung dengan penjelasan barusan itu. Hehehehe celoteh sang teman sambil seruput kopinya yang sudah dingin.
Sambil seruput kopi juga, saya bergumam... wahhh makin larut, pertanyaannya makin berat. Hehehehe
Jadi begini sodara.... suasana kembali tegang. Perlu ditegaskan bahwa penjelasan Ustad Somad itu apabila konteksnya dalam situasi perang. Bukan dalam situasi damai. Palestina itu kan dalam situasi memprihatinkan. Dimana kita semua tahu bahwa rakyat Palestina hendak diusir dari tanah yang mereka punya. Jika demikian, penjelasan Ustad Somad tidak ada salahnya.
Tapi menurut saya, perlu dipertegas target atau sasaran dari aksi bom diri itu. Jika targetnya adalah fasilitas umum, ini masalahnya. Kalau target atau sasaranya adalah fasilitas militer atau tentara itu baru benar. Apa kita membenarkan pembantaian warga Yahudi yang tidak berurusan dengan perang ?? Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa Islam tidak membenarkan pembunuhan terhadap rakyat sipil yang tidak bersalah. Siapa pun mereka, baik Yahudi, Nasrani maupun umat lainnya. Mengenai polemik tentang hukum amaliah istishadiah ini, nantilah kita bahas di waktu yang lain. Sekarang kita kembali ke Laptop !!
Hmmm teman saya nyengir karena saya tidak melanjutkannya. Maklum Indonesia lagi heboh dengan aksi bom bunuh diri di Surabaya jadi dia kecewa.
Jangan lupa ya dikupas juga mengenai gerakan dari Ikhwanul Muslimin. Lagi hot lho informasi tentang pembubaran organisasi radikal. Permintaan kawan agak memaksa sambil dia menyalakan rokoknya. Baiklah.. Inshaa Allah ... Asal bapak puas, saya lemas. Begitu gurauan saya.
JIHAD ISLAMI (THE PALESTINIAN ISLAMIC JIHAD
Jihad Islam atau "Harakat al-Jihad al-Islami fi Filastin" merupakan faksi lainnya yang ada di Palestina. Didirikan oleh Fathi Syaqaqi dan Abdul Aziz al Awda pada tahun 1970-an. Tujuan utama dari faksi ini adalah mendirikan negara syariat Islam Palestina. Ideologi kelompok ini sangat dekat dengan organisasi Al Qaedah. Itulah mengapa negara Amerika Serikat memvonis kelompok ini sebagai kelompok teroris. Kelompok ini juga terkenal dengan aksi bom bunuh diri lho.
Namun kelompok ini berbeda dengan Hamas dan Fatah. Kelompok ini tidak punya "nafsu" dengan perpolitikan. Mereka hanya disibukkan dengan aksi perlawanan militer saja.
Organisasi sayap militer mereka bernama Brigade Al Quds. Saya menduga bahwa kelompok Brigade Al Quds ini membangun kerjasama juga dengan kelompok Hizbullah di Lebanon itu. Ini terlihat dari kemampuan Brigade Al Quds dalam membuat roket yang memiliki kesamaan teknologi dengan roket Katyusha milik Kelompok Hizbullah.
Jika benar dugaan saya, menarik untuk disimak. Menariknya adalah ternyata mereka sudah tidak mempersoalkan sekte keagamaan lagi. Sunni dan Syiah sudah bukan masalah lagi bagi mereka.
Alhamdulillah. Takbiiirr... kaget teman saya. Inget ya Takbiirr .... bukan Take a beer .... Hati-hati, bunyinya mirip lhoe. Dan kita pun tertawa beberapa saat.
Alhamdulillah. Takbiiirr... kaget teman saya. Inget ya Takbiirr .... bukan Take a beer .... Hati-hati, bunyinya mirip lhoe. Dan kita pun tertawa beberapa saat.
KOMITE PERLAWANAN RAKYAT (THE POPULAR RESISTANCE COMMITTEES)
Komite Perlawanan Rakyat atau Arabnya "Lijan Muqawwamah Sya'biyyah" didirikan pada tahun 2000 oleh Jamal Abu Samhadana.
Menariknya, kebanyakan anggota faksi ini adalah orang-orang yang dulunya adalah anggota dari faksi Fatah dan sayap militernya Brigade Martir Al Aqsa. Mungkin mereka "kecewa" dengan model perjuangan Fatah yang cenderung "lembek". Diplomasi melulu yang mereka andalkan. Kurang lebih seperti begitu dugaan saya tentang kekecewaan mereka terhadap Fatah.
Di bidang militer, KPR memiliki organisasi sayap yang bernama Brigade Nashir Shalahuddin. Nama ini terinpirasi dari sosok pejuang Muslim yang sukses menaklukkan Tentara Salib di Palestina. Siapa lagi kalau bukan Shalahuddin al Ayyubi.
Kok ada KPR disebutkan tadi. Apa itu akronim dari "Kredit Perumahan Rakyat" ?? Candaan teman. Mungkin menghilangkan stress dengan penjelasan saya yang seperti penjelasan dosen di kampus.
Lho kok sudah nyangkut di kredit kelentit itu ya... ?? KPR yang dimaksudkan itu Komite Perlawanan Rakyat lho.
Tapi tidak apa-apa, di Indonesia kredit itu kedengarannya seksi banget. Hahahaha tertawa kami berdua membangunkan orang untuk sahur. Lanjuuttt !! Menarik kata teman.
Tapi tidak apa-apa, di Indonesia kredit itu kedengarannya seksi banget. Hahahaha tertawa kami berdua membangunkan orang untuk sahur. Lanjuuttt !! Menarik kata teman.
FRONT RAKYAT UNTUK PEMBEBASAN PALESTINA (POPULAR FRONT FOR THE LIBERATION OF PALESTINE)
Front Rakyat Untuk Pembebasan Palestina (FRPP) arabnya Al -Jabhah Al-Sha'biyyah lil-Tahrir Filastina didirikan pada tahun 1967 oleh seorang dokter beragama Kristiani yang bernama Dr. George Habash.
Faksi ini berhaluan Marxist atau yang kalian kenal dengan Komunis dan merupakan faksi terbesar kedua setelah Fatah dalam perkumpulan multipartai PLO itu.
Menariknya faksi ini cenderung tidak sejalan dengan Fatah yang memilih sikap moderat terhadap Israel. Bahasa teknisnya diplomasi melulu dalam penyelesaian masalah Palestina - Israel.
Di bidang militer, faksi ini memiliki organisasi sayap yang bernama Brigade Abu Ali Mustapha. Kelompok ini terkenal dengan aksi pembajakan pesawat.
Sebanyak 2 kali pembajakan pesawat telah mereka lakukan yakni pembajakan 4 unit pesawat sekaligus di Zarka Yordania pada tahun 1970 dan pembajakan 1 unit pesawat Air France di Uganda pada tahun 1976. Aksi pembajakan di Uganda ini yang dikenal dengan Peristiwa Entebbe.
Sebanyak 2 kali pembajakan pesawat telah mereka lakukan yakni pembajakan 4 unit pesawat sekaligus di Zarka Yordania pada tahun 1970 dan pembajakan 1 unit pesawat Air France di Uganda pada tahun 1976. Aksi pembajakan di Uganda ini yang dikenal dengan Peristiwa Entebbe.
FRONT DEMOKRASI UNTUK PEMBEBASAN PALESTINA (DEMOCRATIC FRONT FOR THE LIBERATION OF PALESTINE)
Faksi ini sebutan Arabnya Al-Jabha al-Dimuqratiya Li-Tahrir Filastin. Faksi ini mirip dengan FRPP diatas yakni adalah partai politik yang tergabung dalam PLO dan berhaluan Marxist atau Komunis.
Didirikan oleh Nayef Hayatmeh pada tahun 1969. Faksi ini tidak memiliki organisasi sayap militer sebagaimana faksi-faksi yang lain. Ini menunjukkan bahwa kelompok ini hanya fokus di bidang politik saja.
Demikianlah jumlah faksi yang ada di Palestina. Nampak bahwa mereka berbeda dari sisi ideologi maupun cara perjuangan dalam pembebasan Palestina atas Israel.
Fatah dan Front Demokrasi Untuk Pembebasan Palestina lebih cenderung mengandalkan pola diplomasi dalam menghadapi Israel, sementara faksi lainnya lebih memilih perang.
Faksi-faksi ini juga tidak terkoordinir dengan baik antara satu dengan yang lainnya. Kondisi ini yang melemahkan perjuangan mereka. Padahal nasehat Khalifah Ali ra. bahwa "kejahatan yang terkoordinir akan mengalahkan kebenaran yang tidak terkoordinir" mungkin mereka belum pernah dengar.
Selain perbedaan ideologi dan perbedaan pola perjuangan, mereka juga bersitegang antara sesama mereka. Bahkan tidak tanggung-tanggung ketegangan itu menjurus pada perang. Tercatat mereka pernah berperang di Jalur Gaza dan Tepi Barat pada tahun 2007 lalu. Namun jalannya perang terbanyak terjadi di Jalur Gaza. Hasilnya Hamas berhasil menguasai Jalur Gaza.
Fatah pun membalas melalui Presiden Mahmoud Abbas dengan memecat Ismail Haniyah sebagai Perdana Menteri dan menggantinya dengan Fayyad.
Namun Ismail Haniyah menolak pemecatan dirinya. Sehingga terjadi dualisme pemerintahan hingga sekarang ini. Yakni secara de facto Ismail Haniyah (Pemimpin Hamas) menguasai Jalur Gaza. Sedangkan Fatah menguasai Tepi Barat dengan Perdana Menterinya Salam Fayyad. Tahun 2013, Salam Fayyad diganti dengan Rami Hamdalah hingga saat ini.
Upaya rekonsiliasi antara kedua kubu pun dilakukan oleh negara-negara Muslim. Pada tahun 2010 Mesir bersedia menjadi tuan rumah proses rekonsiliasi itu. Hasil dari rekonsiliasi itu adalah Hamas bersedia menyerahkan wilayah Jalur Gaza yang dikuasainya itu kepada Pemerintah Palestina yang dikuasai oleh Fatah.
Tapi sungguh sangat disayangkan. Proses rekonsiliasi itu dinodai oleh Fatwa Pemerintah Arab Saudi yang masih menganggap Hamas sebagai organisasi teroris karena bekerjasama dengan Iran.
Hadeeeww Arab Saudi lagi.... kampret mereka itu. Dasar Wahabi. Islam muncul di sana tapi makin brengsek juga mereka itu. Yaman mereka bombardir, Suriah juga mereka sikat. Itukah Islam mereka ?? Emosi teman saya sambil pukul-pukul kursi tempat dia duduk.
Sabar bro.... !! Ente bisa benci dengan pemerintah Arab Saudi, tapi jangan kaitkan dengan Islam lho. Nanti sampeyan di demo berjilid-jilid oleh pasukan nasi bungkus karet 2.
Wkwkwkwkw nasi bungkus karet 2 itu lho bikin ngakak.
Kayaknya sudah bisa bubar bro. Sahur oeeee.... kata saya.
Ohh iya sahurnya pake nasi bungkus karet 2 vro ??? Candaan teman saya sambil jalan pulang.
Huuusss bubar.. wkwkwkwkw
Note :
Tulisan ini didedikasikan kepada Ayu. Dia adalah pejuang terbaik di banding pejuang Palestina bagi saya.
Seorang perempuan yang "dipaksa" berjuang bertahan hidup sendiri dan mengayomi saudara-saudaranya. Dia sosok perempuan terkuat yang pernah saya lihat selain ibu saya.
Semoga rahmat Allah selalu menyertaimu. Dimanapun kau berada. Amiiinnn
Selain perbedaan ideologi dan perbedaan pola perjuangan, mereka juga bersitegang antara sesama mereka. Bahkan tidak tanggung-tanggung ketegangan itu menjurus pada perang. Tercatat mereka pernah berperang di Jalur Gaza dan Tepi Barat pada tahun 2007 lalu. Namun jalannya perang terbanyak terjadi di Jalur Gaza. Hasilnya Hamas berhasil menguasai Jalur Gaza.
Fatah pun membalas melalui Presiden Mahmoud Abbas dengan memecat Ismail Haniyah sebagai Perdana Menteri dan menggantinya dengan Fayyad.
Namun Ismail Haniyah menolak pemecatan dirinya. Sehingga terjadi dualisme pemerintahan hingga sekarang ini. Yakni secara de facto Ismail Haniyah (Pemimpin Hamas) menguasai Jalur Gaza. Sedangkan Fatah menguasai Tepi Barat dengan Perdana Menterinya Salam Fayyad. Tahun 2013, Salam Fayyad diganti dengan Rami Hamdalah hingga saat ini.
Upaya rekonsiliasi antara kedua kubu pun dilakukan oleh negara-negara Muslim. Pada tahun 2010 Mesir bersedia menjadi tuan rumah proses rekonsiliasi itu. Hasil dari rekonsiliasi itu adalah Hamas bersedia menyerahkan wilayah Jalur Gaza yang dikuasainya itu kepada Pemerintah Palestina yang dikuasai oleh Fatah.
Tapi sungguh sangat disayangkan. Proses rekonsiliasi itu dinodai oleh Fatwa Pemerintah Arab Saudi yang masih menganggap Hamas sebagai organisasi teroris karena bekerjasama dengan Iran.
Hadeeeww Arab Saudi lagi.... kampret mereka itu. Dasar Wahabi. Islam muncul di sana tapi makin brengsek juga mereka itu. Yaman mereka bombardir, Suriah juga mereka sikat. Itukah Islam mereka ?? Emosi teman saya sambil pukul-pukul kursi tempat dia duduk.
Sabar bro.... !! Ente bisa benci dengan pemerintah Arab Saudi, tapi jangan kaitkan dengan Islam lho. Nanti sampeyan di demo berjilid-jilid oleh pasukan nasi bungkus karet 2.
Wkwkwkwkw nasi bungkus karet 2 itu lho bikin ngakak.
Kayaknya sudah bisa bubar bro. Sahur oeeee.... kata saya.
Ohh iya sahurnya pake nasi bungkus karet 2 vro ??? Candaan teman saya sambil jalan pulang.
Huuusss bubar.. wkwkwkwkw
Note :
Tulisan ini didedikasikan kepada Ayu. Dia adalah pejuang terbaik di banding pejuang Palestina bagi saya.
Seorang perempuan yang "dipaksa" berjuang bertahan hidup sendiri dan mengayomi saudara-saudaranya. Dia sosok perempuan terkuat yang pernah saya lihat selain ibu saya.
Semoga rahmat Allah selalu menyertaimu. Dimanapun kau berada. Amiiinnn
Tidak ada komentar:
Posting Komentar