Senin, 18 Juni 2018

KONFLIK DI TANAH PARA NABI


"Sebenarnya saya malas bercerita tentang Palestina". Begitulah kata saya mengawali cerita lepas bersama kawan sambil menyalakan sebatang rokok.

Bagaimana tidak malas kalau konflik 2 bangsa itu Israel dan Palestina sudah terjadi sejak zaman Nabi Musa hingga zamannya si Musa Badrun (tetangga saya) masalahnya tidak kelar-kelar juga.

Sambil tertawa terkekeh-kekeh teman saya bertanya terus masalahnya dimana sampai Palestina sulit merdeka ?? Jawabannya ada di rakyat Palestina itu sendiri. Mereka mau bersatu atau tidak ?? Itu masalahnya. Bukan tergantung dari aksi kaum muslim seluruh dunia. 

Berbagai upaya telah dilakukan oleh kaum muslim dunia baik melalui lembaga negara maupun organisasi-organisasi seperti OKI, Liga Arab dan sebagainya lalu apa hasilnya ?? Palestina merdeka sepenuhnya ?? Ternyata tidak.

Wacananya makin menarik, sepertinya perlu pesan kopi ini. Biar melek mata. Kata teman. 

Berbagai cara telah dilakukan oleh negara-negara Muslim, saya melanjutkan perbincangan.  Dimulai dari pemutusan hubungan diplomatik sampai yang paling ekstrem melalui upaya perang telah mereka lakukan. 

Sepengetahuan saya, perang negara-negara Arab dengan Israel sudah terjadi sebanyak 4 kali, yaitu pada tahun 1948-1949, tahun 1956, tahun 1967 dan tahun 1973.

Sebanyak 3 kali pertempuran Arab versus Israel yang berkaitan dengan pembebasan Palestina, sedang 1 pertempuran tidak berkaitan dengan Palestina melainkan gara-gara persoalan nasionalisasi Terusan Suez oleh Mesir di tahun 1956. 

Sambil seruput kopi yang sudah dibikin, teman terus bertanya "lalu Konsekuensi dari Perang itu apa ? Sambil bercanda saya bergumam "kayaknya ini kuliah 3 SKS mata kuliah politik Timur Tengah". Sesaat kawan itu tertawa sambil garuk-garuk kepalanya.  Walaupun saya tau bahwa kepalanya tidak gatal. Itu hanya pertanda bahwa dia ingin mendengar jawaban dari pertanyaannya itu.

Jadi begini saudara (keadaan tegang kembali). Pada pertempuran pertama, kemenangan berpihak pada Israel dan hasilnya negara Israel berdiri seperti yang kita kenal sekarang ini. Kemudian pada perang kedua, berakhir dengan gencatan senjata yang memaksa Mesir membayar ke Suez Canal Company selaku pemegang otoritas Terusan Suez sebelum di nasionalisasikan oleh Presiden Mesir waktu itu Gamal Abdul Nasser. Itu terjadi pada tahun 1956.

Pada perang Arab - Israel yang ketiga, yaitu pada tahun 1967 kemenangan berada di pihak Israel. Hasilnya adalah Suriah harus kehilangan Dataran Tinggi Golan, Jordania harus kehilangan wilayah Tepi Barat dan Yerusalem Timur yang dikuasainya. Mesir juga kehilangan sebagian wilayahnya yaitu Semenanjung Sinai dan Jalur Gaza (waktu itu dibawah kendali Mesir). 

Dengan demikian, sudah pasti batas wilayah Israel pun bertambah setelah menang perang yakni bertambah 300 km ke selatan, 60 km ke timur, dan 20 km ke utara.

"Busyeettt" kata teman saya. Kelihatan dia kaget bercampur jengkel. Terrruuuusss pintanya sambil plototin matanya.

Pada perang yang keempat dijuluki Perang Yom Kippur atau Perang Ramadhan (istilah versi Arab) di tahun 1973 ini masing-masing pihak mengklaim kemenangan di pihak mereka. Tapi menurut hemat saya kemenangan terbesar ada di pihak Arab. Karena wilayah Semenanjung Sinai yang dicaplok Israel pada perang tahun 1967 lalu berhasil diambil kembali oleh Mesir.

Lalu pelajaran apa yang bisa diambil dari rentetan peristiwa diatas terhadap kemerdekaan Palestina ??

Jadi begini sodara, jangan bilang bahwa negara-negara Muslim diam dan tidak berbuat banyak terhadap Israel itu. Mereka harus kehilangan wilayah mereka hanya untuk menghancurkan Israel. Mereka hanya ingin menunjukkan kepada Palestina tentang solidaritas sebagai sesama bangsa Arab dan sama-sama Muslim.

Kita yang di Indonesia juga telah menunjukkan aksi solidaritas yang sama walaupun beda cara kepada bangsa Palestina diantaranya Negara Indonesia tidak sudi membangun hubungan bilateral dengan Israel. Terutama di masa Presiden Joko Widodo, Pemerintah RI bersikeras tidak mau membangun hubungan bilateral dengan Israel pada saat PM Benyamin Netanyahu memintanya di bulan Maret 2016.

Selain itu, sikap keras Indonesia terhadap Israel ditunjukkan Presiden Joko Widodo dalam pidato penutupan Konfrensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Organisasi Kerja sama Islam (OKI) tertanggal 7 Maret 2016 lalu, beliau menyerukan boikot seluruh produk Israel yang dihasilkan dari wilayah pendudukan di Palestina.

Kaum Muslim telah menunjukkan aksi solidaritas mereka kepada Bangsa Palestina baik melalui perjuangan lewat organisasi internasional maupun lembaga negara. Sekarang kita jangan lupa bertanya kepada rakyat Palestina se solid apa perjuangan kalian ??? Kalian jangan hanya berharap persatuan kaum Muslim dunia sementara internal kalian hancur berantakan. Ulasan tentang hal ini akan di bahas pada tulisan selanjutnya. Harap maklum kopi sudah habis. ðŸ˜‚😂😂😂


Tidak ada komentar:

Posting Komentar